Month: Juni 2015

Welcome to My Home, K-Vision!

K-Vision, tv berbayar dari Kompas Gramedia.

K-Vision, tv berbayar dari Kompas Gramedia.

Alhamdulillah. Setelah menunggu bertahun-tahun untuk bisa menikmati channel-channel premium tv berbayar di rumah, aku bisa menikmatinya. Trus, pay tv apa yang kupilih?

Yup, setelah memikir dan menimbang berkali-kali, dari sekian produk pay tv yang ada sekarang, dan melihat kondisi parabola di rumah, akhirnya aku pilih K-Vision. Mengapa milih itu?

Sebelumnya, maafkan aku bila tulisan ini mengandung promosi. Aku menuliskan apa yang aku rasakan belakangan ini selama memakai K-Vision.

Pertama, K-Vision tuh pay tv yang memakai sistem prabayar. Intinya sama kayak isi pulsa nomor hp trus pulsanya dipake buat ngapain aja. Bedanya, kalo di K-Vision kita isi pulsa akunnya trus kita pilih paket yang sesuai kita inginkan. Tanpa isi pulsa dan pilih paket pun kita bisa menonton channel-channel gratis lainnya. Beda dengan pay tv kebanyakan yang menerapkan sistem pascabayar yang setiap bulannya harus dibayar.

Kedua, cara mengisi pulsanya yang menurutku mudah. Kita bisa isi pulsanya lewat Kantor Pos, Bank BCA, dan Bank Mandiri dengan nominal minimal 50 ribu.

Ketiga, pilihan paketnya yang benar-benar spesifik. Kalau aku pengen nonton film doang, tinggal pilih paket film. Begitu juga sebaliknya, pokoknya tergantung yang kita mau deh.

Keempat, K-Vision memiliki channel-channel premium yang tidak dimiliki oleh pay tv lainnya, misalkan RTL CBS Entertainment, RTL CBS Extreme, dan K+ (K Plus).

Kelima, aku bisa menonton channel bola yang saat ini sedang digemari dengan biya yang sangat murah. Cukup 20 ribu saja, aku bisa menikmati beIN Sports 1 dan beIN Sports 2.

OK, itulah perasaan-perasaan yang aku tulis di sini selama aku pake K-Vision. Sudah saatnya aku menyambut K-Vision di rumah.

Welcome, K-Vision!!! 😀

Kutipan Orang Dipake Lagu

Aku ingat tuh, pas perkiraan bulan November 2014, ada sebuah kutipan dari seorang pemain sinetron. Dalam aktingnya, ketika dia punya masalah, dia bilang “Sakitnya Tuh Disini”. Walaupun aku jarang nonton sinetron bahkan gak pernah, aku udah jelas ngerti bahwa kutipan itu emang dari sinetron. Ternyata memang benar bahwa kutipan itu dari sebuah sinetron.

Selang beberapa minggu kemudian, kutipan itu dipake di sebuah lagu dengan judul lagu yang sama. Tentunya, penyanyinya bukan dari si pemain sinetron itu. Tak lama juga, lagu itu langsung booming bahkan di hampir setiap stasiun TV pun turut memainkannya. Bahkan, sang penyanyinya dibawa-bawa ke infotainment. Ini yang aku gak suka, berita tentang fenomenalnya lagu itu diulang-ulang sampe aku muntah ( gak beneran muntah ya, cuma perasaanku aja yang pengen muntah). Tau ndiri kan kalo infotainment sekarang suka menjual gosip dan sensasi.

Belum lama lagi, kita dihebohkan dengan kutipan dari seorang polwan. Si polwan waktu itu curhat ketemu seorang anak kecil. Karena beliau emang polwan dan beliau gak punya waktu untuk keluarga, terutama waktu untuk anaknya, dia bilang “Di situ saya merasa sedih.”

Gak lama-lama, beberapa hari, kutipan itu langsung dibikinin lagu. Dan menariknya, si polwan itu jadi penyanyi dari lagu yang diciptain dengan judul sesuai dengan kutipan yang dilontarkan.

Dua contoh di atas merupakan contoh dari trend yang terjadi saat ini di Indonesia, kutipan orang dipake lagu. Kutipan-kutipan yang sekiranya menarik dan fenomenal langsung dibikinin lagu. Mereka-mereka yang nemu kutipan-kutipan itu langsung jadi terkenal secara instan. Enak toh?

Kita gak tahu sampai kapan trend ini berakhir. Tapi, yang jelas Indonesia selalu melahirkan hal-hal yang sensasional dan fenomenal. Hahaha… 😀

© 2018 Asa Jimly

Theme by Anders NorenUp ↑