Month: Februari 2017

TVRI, Menyatukan Indonesia Sesungguhnya

Dulu, sebelum akhir tahun 80-an, kedua orang tuaku bilang kalau orang yang punya TV bisa dihitung jari per RW, gak seperti sekarang yang makin susah dihitung soalnya hampir semua rumah kanan kiri satu RT kita pasti punya TV. Itupun dulu stasiun TV yang didapat cuma TVRI (Televisi Republik Indonesia). Meskipun cuma TVRI, tapi konten siarannya beragam dan membidik pemirsa tua sampai muda seluruhnya. Sajian liputan beritanya pun beragam dan merata dari Sabang sampai Merauke.

Sekarang, kita disuguhi belasan stasiun TV nasional, terutama stasiun TV berita yang makin menjamur. Sayangnya, sajian beritanya makin ke sini makin mengerucut ke satu daerah saja dan tidak ada bedanya dengan stasiun TV lokal. Yup, betul, hampir semua stasiun TV nasional rasa-rasanya bukan nasional lagi, melainkan rasa ibu kota. Lama-lama, saya pun jenuh nan bosan.

Mungkin, teman-teman pun juga sama seperti yang saya alami. Jawabannya TVRI. Ya, TVRI, mau gimana lagi? Stasiun TV yang kita abaikan selama ini ya itu solusinya. Dengan nonton TVRI, kita dapat kabar yang Indonesia banget. 🙂

Sejak Kapan London dengan Jakarta Selisih 6 Jam?

Sekitar seminggu lebih, menjelang tahun baru Imlek, aku pengen tahu persiapan apa saja yang dilakukan beberapa hotel di Jawa Timur. Meskipun aku nggak ikut merayakan, ya paling nggak pengen tahu kan gimana perayaannya di tempat lain selain tempat ibadah agama yang merayakan itu. #NoSARA

By the way, curhat dulu ya!

Mumpung kepikiran waktu itu, ya udah, aku pergi ke salah satu hotel. Trus, aku tanya-tanya sama humasnya. Dia bilang, hotelnya akan mengadakan acara dinner (makan malam) gitu pas tahun baru Imlek nanti yang kebetulan pas malam minggu waktunya. Menunya ya masakan ala negeri tirai bambu sampe aku lupa namanya. Makan aja belum pernah, hehe.

Penginap bisa santap dinner sambil diiringi musik chinese modern. Tapi, ya nggak mahal kok tarifnya. Cuma 180rb-an kalau nggak salah. Nggak mahal kan? Hehe 😀

Habis, ngobrol sama humasnya, duduk bentar nunggu badanku nggak keringetan lagi soalnya waktu itu di luar panas. Tau tau, sama salah seorang resepsionisnya disuguhin orange juice (isinya sirup jeruk aslinya). Padahal udah nolak-nolak, eh malah disiapin. Ya udah, diminum aja biar resepsionisnya seneng.

Lagi enak-enaknya minum, eh, nikmatnya malah berkurang gara-gara gak sengaja lihat jam dinding dari berbagai negara. Look at this pict!

Yang di tengah itu emang bener jam 2 siang. Tapi, di jam dinding paling kiri, itu jam 8 pagi waktu London. Nah, emang ada yang berubah ya kok selisihnya 6 jam? Bukannya di London harusnya jam 7 pagi?

Ah, baik sangka aja deh. Paling baterainya udah waktunya ganti. Tapi, khawatirnya kalau ada bule London datang trus tiba-tiba bingung-bingung sendiri nyocokin waktunya lah gimana?

© 2018 Asa Jimly

Theme by Anders NorenUp ↑