Sejarah Itu Repetisi Peristiwa

Sejarah Itu Repetisi Peristiwa

Sejarah itu berarti kejadian yang berulang atau aku bahasakan sendiri artinya repetisi peristiwa. Mungkin yang bisa kukatakan melihat peristiwa akhir-akhir ini yang tidak hanya dirasakan oleh satu daerah saja, tetapi bisa dirasakan getarannya ke seluruh penjuru negeri. Lihat saja sekarang, aku nggak mau sebut kasusnya. Pokoknya kasusnya SARA.

Melihat dari kasus itu, tiba-tiba teringat cerita seorang temanku waktu kecil. Ceritanya, dia pernah nonton tayangan tragedi Sampit. Wuh, dia sampe bilang gini. “Duh, gara-gara nonton itu sampe aku gak selera makan. Lah gimana wong kepala aja dipenggal?”. Ugh, jadi ngeri campur takut perasaanku waktu itu bayangin kalo aku di sana.

Siang tadinya, aku malah ingat tragedi itu lagi. Ya udah, aku googling aja, pengen tahu sejarah sebenarnya gimana. Ternyata, tragedi itu konflik dua suku dari beda pulau. Saya nggak sebutin sukunya deh ntar takutnya jadi ribut.

Kasus SARA memang rentan dan riskan terjadi. Gak cuma tragedi Sampit contohnya. Ambon, Poso, kedua daerah itu juga pernah dilanda konflik. Nah, inilah yang aku sebut sejarah itu kejadian berulang.

Kembali ke judul, ya, betul banget. Tetapi yang aku, kamu, dan kita lakukan adalah belajar dari kekelaman sejarah yang pernah ada. Kita bisa mengulang sejarah kok, asalkan caranya benar. Misalnya, Taufik Hidayat pernah dapet medali emas bulu tangkis Olimpiade Athena 2004. Nah, aku, kamu, dan, kita, bisa mengulang sejarah lebih baik dari Taufik Hidayat atau tokoh-tokoh hebat sebelumnya asalkan caranya bisa membahagiakan Indonesia. Soalnya, Indonesia butuh orang-orang hebat lho. Kalau aku, kamu, dan, kita tidak mengulang sejarah untuk Indonesia lebih baik? Siapa lagi?

*Tulisan ini terinspirasi dari dosenku, Irham Thoriq, dari bukunya Para Pembisik Kedunguan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *